Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Matahari Beriringan dengan Bulan, Interpretasi Sumpah Allah tentang “Demi Matahari dan Waktu Dhuhanya"

Yuzhril.com Pertanda terbitnya matahari dari ufuk barat mendeskripsikan tentang keindahan sinarnya yang kerap terlihat orange sehingga matahari berjalan menuju siang sampai sore sehingga kembali lagi menampakkan keindahannya lewat sinar yang indah hingga terbenam.

Gambar: Ilustrasi Matahari dan Bulan Bersanding

Bulan mulai juga tampak seiring bergantinya matahari yang sudah terbenam, keindahan bulan belum terlihat secara jelas sebab cahaya matahari masih jelas, seusai salat isya bulan sudah tampak lebih indah bersama dengan bintang-bintang bersama gelapnya langit.

Fenomena alam yang dijelaskan penulis, merupakan realitas matahari dan bulan terjadi sebagai perputaran yang bergantian mengorbit yang terus menerus terjadi sepanjang masa. 

Bulan dan matahari kadang bersamaan terbit jika diperhatikan pada bulan purnama. Hal ini terjadi pada pagi hari dan sore hari saat matahari dan bulan tampak bersamaan terbit, ini terjadi ketika hilal sudah tampak dalam bulan-bulan Hijriyah.


Fenomena alam tersebut tidak terlepas dari interpretasi ayat Al-Qur’an dalam QS al-Syams/91: 1-2.

Demi matahari dan sinarnya pada waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), demi bulan saat mengiringinya(QS al-Syams/91: 1-2.).

Pandang Mufassir

Menurut Wahbah al-Zuhaili dikutip dalam kitab Tafsir al-Munir, Allah swt. memulai bersumpah dengan matahari yang bersinar baik saat terbenam maupun saat terbit karena matahari merupakan salah satu ciptaan Allah swt. yang sangat besar. Objek sumpahnya adalah cahaya sebagai sumber kehidupan.

Sementara Allah swt. bersumpah dengan rembulan yang bersinar ketika muncul, saat matahari terbenam khusus di malam-malam bulan purnama sampai terbitnya fajar.

Sejalan dengan pendapat M. Quraish Shihab dikutip dalam Tafsir al-Misbah kata dhuha maknanya cahaya matahari secara umum atau juga kehangatan. Yang lebih tepatnya adalah waktu dimana matahari naik sehingga terbayang bagaikan meninggalkan tempat terbitnya dengan kadar sepenggal.

Kemudian kata talah yang terambil dari kata tala berarti mengikuti. Maksud mengikuti di sini adalah bulan sering kali  mengikuti matahari dari banyak hal. Sinar bulan memantulkan adalah cahaya matahari. Hal ini mengisyaratkan bahwa cahaya bulan bersumber dari cahaya matahari.

Pandangan Sains

Allah swt. bersumpah atas nama bulan ketika mengiringi matahari dalam hal menyinari bumi, yaitu ketika matahari telah terbenam. ini merupakan peristiwa bahwa bulan mengiringi matahari dalam hal terbenam dan terbit.

Bulan berputar mengelilingi bumi selama 29,5 hari. Penduduk bumi hanya melihat bulan pada satu sisi bulan saja yang tampak bagi mereka karena waktu yang digunakannya untuk berotasi pada porosnya.

Pada siang suhunya 110 derajat Celcius pada sisi yang menghadap matahari, dan pada malam hari suhunya turun hingga minus 120 derajat Celcius. Orbit revolusi bulan terhadap bumi sedikit mirip dengan orbit revolusi bumi terhadap matahari.

Setelah itu bulan terlambat terbit sekitar 50 menit setiap hari dan keterlambatan ini berlanjut hingga hilal bisa dilihat pada tengah hari dan mungkin inilah yang dimaksud firman Allah swt. “demi bulan saat mengiringinya(QS al-Syams/91: 1-2).

Penulis: Yuzhril


Posting Komentar untuk "Ketika Matahari Beriringan dengan Bulan, Interpretasi Sumpah Allah tentang “Demi Matahari dan Waktu Dhuhanya""