Skripsi Bukan Perlombaan (Tentang Bertumbuh, Bertahan, dan Menyelesaikan Perjalanan Sendiri)
Yuzhril.com Dari bebarapa orang yang pernah ku temui ternyata hal yang paling melelahkan sering kali bukan skripsi itu sendiri, melainkan pikiran bahwa semua orang telah sampai di garis akhir sementara diri sendiri masih di tengah jalan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Di berbagai kampus, di berbagai ruang baca, masih banyak yang berjuang dengan hal yang sama yaitu revisi, menunggu balasan dosen pembimbing, dan rasa lelah yang datang silih berganti. Karena melihat hidup sebagai kompetisi yang harus dimenangkan secepat mungkin. Ada standar tak tertulis tentang usia ideal untuk lulus, bekerja, hingga menikah. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk mengukur kecepatan daripada menikmati proses.
Dalam dunia akademik, hal ini tampak jelas. Pertanyaan seperti “kapan sidang?” atau “kapan wisuda?” sebenarnya wajar, tetapi bagi yang sedang merasa tertinggal, pertanyaan itu bisa berubah menjadi tekanan tersendiri. Ditambah lagi, media sosial lebih sering menampilkan hasil daripada proses foto toga terlihat, tetapi malam-malam panjang penuh revisi tidak. Membandingkan perjuangan nyata dengan hasil terbaik orang lain yang telah dipoles tentu tidak pernah adil. Lalu kemuadian apakah terlambat lulus berarti gagal? Apakah yang lebih dulu sidang pasti lebih sukses? Jawabannya tentu tidak. Masalahnya bukan pada lama waktu yang dibutuhkan, melainkan pada cara memandang perjalanan hidup itu sendiri.
Kita sering menganggap hidup seperti lari cepat, di mana yang tercepat adalah pemenang. Padahal kehidupan lebih menyerupai perjalanan panjang yang membutuhkan daya tahan dan kesabaran. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan “siapa yang selesai lebih dulu?”, melainkan “apakah aku masih bergerak menuju selesai?”
Dalam psikologi dikenal istilah social comparison. Manusia memang cenderung membandingkan diri dengan orang lain, tetapi berbagai penelitian menunjukkan bahwa perbandingan berlebihan justru meningkatkan kecemasan dan menurunkan motivasi. Semakin banyak energi terpakai untuk mengamati pencapaian orang lain, semakin sedikit energi yang tersisa untuk berkembang.
Islam memberi perspektif yang menenangkan. Allah berfirman bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya sendiri (QS al-Najm: 39) bahwa ukuran keberhasilan bukan pencapaian orang lain, melainkan kesungguhan usaha masing-masing. Allah juga menegaskan tidak membebani seseorang melebihi kesanggupannya (QS al-Baqarah: 286). Jika skripsi hari ini terasa berat, itulah amanah yang telah diperhitungkan sesuai kemampuan yang memikulnya.
Skripsi jarang selesai karena ledakan motivasi besar. Ia selesai karena langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Tiga hal berikut dapat membantu menjaga semangat:
- Fokus pada progres, bukan posisi. Alih-alih memikirkan seberapa jauh teman melangkah, tanyakan pada diri sendiri: hari ini sudah maju sejauh apa?
- buat target yang realistis. Menulis satu bab sehari terdengar mengesankan tetapi jarang tercapai. Target sederhana seperti dua halaman atau satu artikel ilmiah per hari jauh lebih mudah dijaga konsistensinya.
- rawat keyakinan diri. Setiap orang menghadapi kondisi berbeda ada yang bekerja sambil kuliah, ada yang menanggung tanggung jawab keluarga. Membandingkan perjalanan yang berbeda konteksnya bukanlah hal yang adil.
Skripsi bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan tentang siapa yang tetap melangkah meski prosesnya tidak mudah.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya sendiri. Tidak semua bunga mekar pada musim yang sama, dan tidak semua perjalanan menuju tujuan lewat jalan yang identik. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi peluang keberhasilan diri sendiri. Perjalanan mereka adalah kisah yang telah dituliskan untuk mereka, sedangkan perjalanan kita adalah amanah yang dititipkan khusus bagi kita. Berhentilah mengukur diri dengan jam milik orang lain. Selama masih ada usaha, masih ada belajar, masih ada revisi yang diperbaiki, dan masih ada doa yang dipanjatkan, sesungguhnya tidak ada yang tertinggal hanya sedang berada pada proses yang berbeda.
Suatu hari nanti, skripsi yang hari ini terasa begitu berat akan menjadi kisah yang dikenang dengan penuh syukur. Maka, teruslah melangkah, satu halaman demi satu halaman, satu revisi demi satu revisi, satu doa demi satu doa. Sebab yang terpenting bukan siapa yang sampai lebih dahulu yang terpenting adalah sampai.

Posting Komentar